School Work

A Greedy Deer

Categories
Published
of 8
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
Related Documents
Share
Description
b. inggris, tugas inggris, dongeng
Transcript
  A Greedy Deer A deer and an elk were on the edge of the forest. They were very hungry and looking for the fruits. Apparently, there were no fruits that they could pick because at the edge of the forest there were only a few trees. A few minutes later, the deer asked the elk to go into the forest and took the foods, because there were big trees that always had so many fruits. When they were in the forest, they found a lot of trees with heavy fruits. However, the fruit have not been ripe yet, so it could not be consumed. The deer were very hungry so he asked the elk to eat without worry. The elk refused and forbade the deer to consume the raw fruit. The elk said that the raw fruit could cause stomach ache.  Nevertheless, he still ate those raw fruit and ignored the advice from the elk. He thought that the fruit was a healthy meal even though it was still raw. He consumed all of the raw fruits and after that he felt very satisfied. Suddenly, the monkey and the giraffe come with many fruits that were ripe and tasted so sweet. They said that there were no ripe fruits in this forest, so they looked for the food in another forest. The deer and the elk were very happy because they were given the delicious food by monkey and giraffe. However, when the deer wanted to eat the fruits, he felt the soreness in his stomach. He said “Owh, my stomach is so hurt, my stomach is hurt”. Then the elk replied “you have stomach ache because you did not obey my advice, you continued to eat the raw fruit while I have warned you n ot to eat it”.  The deer finally eat a very bitter medicine to stop the pain, meanwhile, the elk, the monkey, and the giraffe ate the delicious food together.  Kancil yang Tamak Kancil dan rusa sedang berada di tepi hutan. Mereka sangat lapar dan sedang mencari  buah-buahan. Tampaknya, tidak ada buah yang bisa mereka petik karena di tepi hutan hanya terdapat sedikit pepohonan. Beberapa menit kemudian, kancil mengajak rusa untuk mencari makanan ke dalam hutan karena di dalam hutan terdapat pohon yang  besar-besar dan tentu saja banyak buah matang yang bisa diambil. Ketika mereka berada di dalam hutan, mereka menemukan banyak sekali pohon dengan  buah yang lebat. Namun, buah-buahan tersebut belum matang sehingga tidak dapat dikonsumsi. Kancil sangat lapar sehingga ia mengajak rusa untuk mengkonsumsi buah tersebut. Ajakannya ditolak oleh rusa dan rusa melarangnya untuk mengkonsumsi buah mentah tersebut. Rusa mengatakan bahwa buah mentah dapat menyebabkan sakit perut. Kendati demikian, ia tetap memakan buah tersebut dan tidak memperdulikan nasehat dari rusa. Ia berpikir bahwa buah merupakan makanan yang sehat meskipun belum matang. Ia menghabiskan berbagai macam buah-buahan mentah dan setelah itu ia merasa sangat kenyang. Tiba-tiba, monyet dan jerapah datang membawa berbagai macam buah-buahan yang sudah matang dan rasanya begitu manis. Mereka mengatakan bahwa tidak ada buah- buahan yang matang di hutan ini, sehingga mereka mencari makanan di hutan lain. Kancil dan rusa sangat senang karena mereka diberikan makanan lezat oleh monyet dan  jerapah. Namun, ketika akan memakan buah-buahan matang tersebut, kancil merasa  bahwa perutnya begitu sakit. Ia berkata “owh, perutku sakit, aku tidak mampu menahannya, perutku sakit sekali”. Kemudian rusa menjawab “perutmu  sakit karena kau tidak mematuhi nasehatku, kau terus memakan buah mentah sementara aku telah memperingatkanmu untuk tidak memakannya”.  Kancil akhirnya memakan obat yang rasanya sangat pahit untuk menghilangkan rasa sakitnya. Sementara itu, rusa, monyet, dan jerapah memakan makanan lezat bersama-sama.  The Freedom of Ants Ants are very small animals and often got the oppression by the animals which are greater than them. One of the animals that colonize the ants was grasshoppers. Every day they ordered the ants to find food and collect it. When the food was collected, then a locust took the food and put it in the nest. Every day the ants were given the job and had to work without stopping. Many ants had died because of the exhaustion at work and that condition always continued. In the ants’ colony, there were two ants which were very brave and always  plotted a rebellion. The two ants named Riandi and Anggara. They invited others to subvert the power possessed by the locusts. However, no ant dared to unite and overthrew the power of locusts. Most ants thought that the condition was a destiny and a willing of God which should be received. Riandi and Anggara never gave up and kept trying to get a lot of members in order to destroy the colony owned by the locusts. One day, the king’s son died because of running the food out. Each food was given entirely to the locust, so the young king died  by starvation. This happening realized the ants that they had to fight and led their own nation. Anggara Riandi and serve as the leader of the rebellion. Ant Riandi is very expert in making weapons while Anggara is an expert in creating ant war strategy. Several weeks later, Riandi has managed to make hundreds of weapons without being noticed by the locusts. Meanwhile, Anggara and all ants have agreed that they will attack the headquarters of the grasshopper when the evening. Before the army ants supplied by arms, they soon moved to the headquarters of locusts through existing tunnels underground. When they arrived, Anggara immediately gave orders for the ants were divided into 10 groups and dispersed to every corner. They then came out of the tunnel through the holes dug. After all the soldiers out of the tunnel, then they fired weapons into the  bodies of each grasshopper. In less than ten seconds, many locusts are dying due to exposure to the toxins produced by these weapons. The attack carried out continuously for one night, and the next day, the ants have won the fight. They returned home with a sense of joy because it had been free from colonization by locusts. Meanwhile, Riandi and Anggara appointed as the new king. Ants lived happily and peacefully because of their brave.  Kemerdekaan Semut Semut adalah hewan yang sangat kecil dan seringkali mendapatkan penindasan dari hewan-hewan yang lebih besar. Salah satu hewan yang menjajah semut adalah belalang. Setiap hari mereka memerintahkan semut untuk mencari makanan dan mengumpulkannya. Ketika makanan sudah terkumpul, maka belalang mengambil makanan tersebut dan menaruhnya di sarang mereka. Setiap hari semut diberikan tugas tersebut dan harus bekerja tanpa berhenti. Sudah banyak semut yang mati karena kelelahan bekerja namun keadaan ini terus  berlanjut. Dari keseluruhan semut tersebut, ada dua ekor semut yang sangat berani dan selalu merencanakan pemberontakan. Dua semut tersebut bernama Riandi dan Anggara. Mereka mengajak semut yang lain untuk menumbangkan kekuasaan yang dimiliki oleh  belalang. Namun, tidak ada yang berani untuk bersatu dan menumbangkan kekuasaan  belalang. Kebanyakan semut berpikir bahwa penjajahan yang sedang terjadi merupakan takdir dan merupakan kehendak dari Tuhan yang harus mereka terima. Riandi dan Anggara tidak pernah menyerah dan terus berusaha untuk mendapatkan  banyak teman dalam rangka menghancurkan koloni yang dimiliki oleh belalang. Pada suatu hari, anak raja semut meninggal dunia karena kehabisan makanan. Makanan yang ada sudah diberikan seluruhnya pada belalang sehingga anak sang raja meninggal karena kelaparan. Peristiwa tersebut menyadarkan para semut bahwa mereka harus melawan dan memimpin bangsa mereka sendiri. Riandi dan Anggara dijadikan sebagai pemimpin pemberontakan. Riandi adalah semut yang sangat ahli dalam membuat senjata sementara Anggara adalah semut yang ahli dalam menciptakan strategi perang. Beberapa minggu kemudian, Riandi telah berhasil membuat ratusan senjata tanpa diketahui oleh belalang. Sementara itu, Anggara dan semua semut telah sepakat bahwa mereka akan menyerang markas besar belalang ketika malam hari. Sebelum tentara semut dibekali oleh senjata, mereka segera bergerak ke markas belalang melalui terowongan-terowongan yang ada di bawah tanah. Ketika mereka sampai, Anggara segera memberikan perintah agar semut dibagi menjadi 10 kelompok dan berpencar ke setiap sudut. Mereka kemudian keluar dari terowongan tersebut lewat lubang-lubang yang digali. Setelah semua tentara keluar dari terowongan, maka mereka menembakkan senjata tersebut ke tubuh-tubuh setiap belalang. Dalam waktu kurang dari sepuluh detik, sudah banyak belalang yang mati karena terkena racun yang dihasilkan oleh senjata tersebut. Penyerangan dilakukan secara terus-menerus selama satu malam, dan pada esok hari, semut telah memenangkan pertarungan. Mereka kembali ke rumah dengan rasa gembira karena telah terbebas dari penjajahan yang dilakukan oleh belalang. Sementara itu, Riandi dan Anggara diangkat sebagai raja yang  baru. Semut hidup bahagia dan damai karena tindakan mereka yang berani.

Strain Guages 1

Jul 23, 2017

REPORT (2).docx

Jul 23, 2017
Search
Tags
Related Search
We Need Your Support
Thank you for visiting our website and your interest in our free products and services. We are nonprofit website to share and download documents. To the running of this website, we need your help to support us.

Thanks to everyone for your continued support.

No, Thanks